Selasa, 03 Mei 2011

Tgh. Muhammad Ali Batu (Sakre)

    Beliau adalah Muhammad Ali Batu Bangke Ilang Sabil yang oleh para sejarawan lokal maupun Belanda dianggap sebagai tokoh paling kharismatik sepanjang sejarah perjuangan rakyat Lombok, pemersatu masyarakat khususnya umat islam baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelata dari perpecahan dan juga sebagai pejuang dalam perang melawan kekuasaan penjajahan Hindu-Bali di Lombok.
    Dengan kharisma beliau yang luar biasa saat itu telah menjadi modal utama dalam mempersatukan semua kalangan yang ada di Lombok yang terkenal sangat sulit untuk diwujudkan dan kemudian membawa mereka kepada satu tujuan yaitu perjuang suci. Keretakaan-keretakan hubungan masyarakat Lombok yang ada tersebut tidak lepas dari keterbelakangan dan adanya perasaan yang selalu ingin menang sendiri di antara mereka. Tengtang keadaan ini dapat diketahui dari Babad Lombok, Babad Selaparang, Babad Sakre-Karang Asem dan beberapa laporan dari pemerintah Belanda,antara lain:
a. Tentang kharisma beliau yang luar biasa itu dapat diketahui dari sebuah laporan pemerintah Belanda yang menjelaskan sebagai berikut:
“Di tanah ini (Lombok), Haji Muhammad Ali menebarkan benih thoriqotnya.......(yang menurut catatan Belanda disebut dengan “ Sekte Nakasabandrija”).
Orang-orang berdatangan kepada Mohammad Ali di Sakre minta dibiat masuk thoriqotnya, kaum bangsawan dan juga rakyat jelata menganggap suatu keberuntungan apabila diperboleh bergabung dalam barisan para murid yang melakukan ziarah ke tempat kediaman sang guru suci......(Laporang Belanda,Minggu 28-10 s/d 4-11-1897(KV 28-11-1896,V19, hal 26-28).
b. Tentang ketolol-tololan dan keterbelakangan pemikiran yang membut orang Sasak saat itu selalu terpecah-belah pada khususnya dapat di ketahui dari Babad Selaparang babd sakre-Karng Asem.
“Terkisahkan sekarang di Bali, sudah siap lengkap perbekalan dan senjata ,para Gusti di perintahkan untuk mencari kapal layar tempat bekal mesin dan peluru. Ada bantuan dari Tabanan, Buleleng, dan Mangwi juga ikut membantu.Begitulah ceritnya (persiapan itu) sangat baik, kata musyawarah itu, “Raja Sasak itu semuanya tolol.”(Babad Selaparang Bait; 451)
“ Mule meno kelampan Sasak, ndarak pade mele ngasorin, mele amesak-mesak, kewastuan pade cerengeh,marak beberas pesiaq tetolang, ndarak pade likat mudi.....”(Babad Sakre-Karang Asem)
c. Tentang kepahlawanan beliau dan cita-cita perjuangannya yang suci dapat disimak dalam laporan Van Der Krann (1980) yang mengutip pokok-pokok pembahasan Neeb & Asbeck Brusse pada tahun 1897 dan dalam Babad Lombok II.
“Pada tahun 1891 orang Muslim dari suku Sasak di Lombok melakukan pemberontakan terhadap pemerintah raja Bali (Anak Agung Ngurah Karang Asem). Ini bukanlah pemberontakan yang pertama, tetapi memeang yang paling dahsyat. Berbeda dengan sebelumnya, maka pemberontakan kali ini tidak dapat di padamkan. Pemberontakan ini telah menyababkan berakhirnya setengah Abad kekuasaan Bali di Lombok dan mengundang campur tangan Belanda.”(Van Der Krann)
Sedangkan dalam Babad Lombok II dilukiskan tentang tujuan perjuangan suci itu sebagai berikut :
“ Mun kesukaq Allah luih,
Te beriuk ngiring Tuan Guru,
Turut perang sabil andang Bat,
..................................................
Mun te pade menang lemaq,
Ite pade,ndek te buring te pegisiq,
Rakse,dese,dasan te iriq,
......................................................
Petin kebon bangket te kawih ndidik anak jari,
Gen payas gumi Selaprang seseniq.
Secara terperinci tentang sejarah kepahlawanan beliau ini dapat di baca dalam Babad Sakre-Karng Asem.Babad ini belum lama berselang diterbitkan oleh Yayasan Kerta Raharja di Sakra,berupa stensilan dengan catatan-catatan singkat oleh L. Djelenge.

    Adapun khusus tentang sejarah perjalanan keguruan beliau dalam tashawuf(thoriqot), maka dapat disimak dari kiah yang dituturkan oleh Bapak.Guru.Syekh Abdusshomad Habibullah sebagai berikut:
Sejarah keguruan Muhammad Ali berawal dari mimpi, dimana beliau dalam mimpi itu bertemu dengan Baha’uddin al-Naqsyabandy atau dalam dialek(penyebutan) masyarakat Sasak dikenal dengan nama Syekh Ba’idin yang memerintahkannya untuk melakukan suatu pelayaran ke Mekkah dengan membawa perbekalan berupa 160 biji paku,sebuah palu dan sebuah sabuk Saje sepanjang 40 Depa.
    Sampai pada mimpi yang ketiga beliau belum juga melaksanakan perintah mimpi itu hingga akhirnya pada mimpi yang keempat beliau baru berlayar dengan ditemani oleh seorang sahabatnya yaitu Guru Adam dari desa Aik Mual Praya.
Dalam perjalanannya, beliau menghadapi berbagai rintangan yang menyebabkan perahunya pecah. GuruAdam dengan susah payah menyelamatkan diri dan akhirnya terdampar di desa Pengantap Sekotong, sedangkan beliau juga berhasil menyelamatkan diri karena menemukan pohon Paok Jenggik ( Paok ; Mangga ) yang tumbuh di tengah lautan.Kemudian teringat dengan bekal yang ada, beliau pun mulai memanjat dengan menggunakan paku yang dibawanya hingga menghabiskan 100 biji paku.
    Setelah sampai di atas pohon itu, beliau melihat buahnya yang hanya berjumlah satu biji. Namun mendadak seketika itu seekor burung Garuda datang dengan cepat dan memakan buah mangga itu hingga setengahnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan,beliau segera bersembunyi dan sangat hati-hati beliau mengeluarkan sbuk saje kemudian mengikat dirinya di kaki burung itu.Karena burung itu hanya memakan setengahnya saja,beliau berfikir.”Di sini tidak ada yang bisa saya makan kecuali buah ini.”Buah itu pun di makannya hingga dirasa cukup sekedar untuk mengganjal perut.
Setelah burung itu terbang jauh hingga sampai ke tengah hutan yang dalam dialek Sasak disebut dengan hutan Serandik yang ada di negeri Mesir.Beliau melepaskankan ikatan sabuknya untuk segera turun sebelum burung itu sadar dan melihatnya.Malang baginya, di tengah hutan itu beliau di kepung sekawanan binatang buas (srigala) yang menyebabkan harus segera menyelamatkan diri dengan memanjat sebatang pohon dengan menggunakan sisa 60 biji paku yang dibawanya.Setelah beberapa saat,seekor srigala yang merupakan raja sekawanan srigala itu segera memanggil srigala-srigala lainnya dan kemudian beramai-ramai mengencingi batang pohon itu sehingga membuat batangnya menjadi goyang.Melihat kondisi tersebut dengan cepat beliau mengikat kerisnya pada ujung sabuk saje dan menjatuhkannya ke mulut srigala hingga akhirnya binatang itu mati.
Melihat rajanya mati,serta merta yang lainnya ketakutan dan segera melarikan diri. Dengan perasaan lega dan penuh rasa syukur yang mendalam beliau segera turun untuk menguliti binatang itu hingga kulitnya dapat dijadikan sebagai pakaian penghangat.
    Diperjalanan selanjutnya beliau melewati sungai Nil, terdpat tempat di sungai itu yang airnya dapat dapat mengubah segala benda yang jatuh didalam membatu(keras bagaikan batu).Hal terbusebut beliau menjadi takut dan ragu untuk menyebrang. Beliau tudak berputus asa, segera di ambilnya debu untuk bertayamum dan kemudian melaksanakan sholat sunat.Usai sholat beliau berdo’a mohon kepada Allah SWT.agar segera di pertolongan dari kesulitan yang dihadapinya.
Allah SWT.mengabulkan do’anya dengan menurunkan hujan badai dahsyat yang menyebabkan sebatang pohon besar tumbang dengan posisi melintang seperti sebuah titian di atas sungai itu.Dengan hati-hati beliau berjalan di atas pohon yang tumbang itu dan berhasil melewati sungai terebut. Namun karena rasa penasaran dengan apa yang di lihatnya, beliau mencoba untuk membuktikan dengan mencelupkan jari telunjuknya kedalam sungai.Dengan kekuasaan Allah SWT. Jari beliau segera berubah membatu (menjadi keras bagaikan batu) dan oleh karena jari yang telah membatu inilah akhirnya gelar Muhammad Ali “ Batu “ dinisbahkan kepadanya.
    Singkat cerita sampailah beliau di sebuah desa di negeri Mesir dan mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakatnya. Oleh masyarakat setempat beliau kemudian diarak ke istana Raja (Sulthon). Karena Sulthon tertarik dengan kulit binatang yang dibawanya, maka dibelinya kulit binatang itu seharga dengan empat kantung uang dengan maksud untuk dijadikan jimat.
    Di desa itu beliau menginap di rumah seorang penghulu agama yang menceritakan kepadanya bahwa Syekh yang selama ini bekiau cari itu pada tiap tiga tahun sekali datang berkunjung ke desa tersebut dengan rupa yang berbeda-beda dan itulah sebabnya mengapa ketika beliau datang ke desa itu di sambut dan diarak ke istana raja.Hal itu tidak lain karena beliau dianggap sang Syekh.Penghulu itu juga menambahkan bahwasanya Syekh tersebut kini sedang melakukan suluk di Jabalil Asir (gunung Asir) yang terletak di negeri Yaman.
Setelah mendengar cerita itu, Muhammad Ali mohon agar diantarkan ke tempat tersebut. Penghulu itu menjawab bahwa ia tidak berani pergi ke tempat dimana Syekh berkhalwat. Kemudian Muhammad Ali berkata:”Bila anda tidak berani (sanggup) ke tempat itu,maka cukuplah anda tunjukan dimana arah menuju tempat itu.”Oleh penghulu itu permintaan beliau dikabulkan.
    Kemudian meraka pun melakukan perjalanan ke tempat tujuan.Ketika mereka telah dekat,penghulu itu kemudian menunjukan tempat yang oloeh Muhammad Ali merupakan tempat yang tidak asing lagi baginya disebabkan beliau beberapakali melihatnya di dalam mimpi.Dan sebagai tanda terima kasihnya atas pertolongan penghulu yang telah menunjukan tempat itu,beliau menghadiahkan kepadanya seluruh uang (yang empat kantung) tanpa tersisa sedikitpun. Ini merupakan I’tibar (contoh) bahwa ilmu hakikat adalah ilmu yang tidak ternilai dan juga tidak bisa ditukar atau dibandingkan dengan harta berapapun banyaknya walau hanya sekedar ditunjuki tempat menututnya saja, apa lagi sampai dapat menerimanya. I’brah ini hendak menjadi renungan bagi setiap jama’ah untuk terus bersyukur kepada Allah SWT.karena tidak semua orang mampu berfikir akan tingginya ilmu ini dan juga tidak semua orang sanggup menghargainya sebagaimana Muhammad Ali telah menghargainya.
&nbs ;   Setelah itu beliau pun bertemu dengan Syekh Ba’idin dan langs ng mengucapkan salam kepadanya.Namun beliau sangat terkejut,sesampai di hadapan Syekh Ba’idin beliau bukannya mendapat sambutan sebagaimana yang diharapkan,malah ebaliknya dapat makian.Syekh Ba’idin bertanya:”siapa yang menyuruhmu kesini menemui saya ? “Muhammad Ali menjawab : “Anda wahai Syekh.”
    Kemudian setelah itu oleh Syekh Ba’idin beliau dipersilahkan untuk segera memasuki ruang Suluk (tempat khalwat / pertapaan).Ketika berada dalam pertapaan itulah ubun-ubun beliau di usap oleh Syekh Ba’idin hingga menyebabkan beliau berteriak-teriak dan merasa ketakutan yang luar biasa karena perlihatkan kepadanya keadaan siksa neraka yang konon saat itu sesaat terasa seperti 70 tahun lamanya.
Kejadian saat itu telah meninggal bekas yang sangat mendalam hingga menyababkan beliau menyerah an hidup dan matinya kepada Syekh Ba’idin untuk mendapatkan bimbingan.Oleh Syekh Ba’idin beliau kemudian di perintahkan untuk masuk kembali ketempat khalwatnya yang kemudain ditutup dengan batu dan di tempat itulah beliau tinggal selama tiga tahun.
    Sementara beliau berada di tempat khalwatnya tersebut,di Lombok sahabat beliau Guru Adam kembali melakukan pencarian dengan tujuan agar dapat memukan beliau hidup atau mati.Namun usaha pencarian itu hasilnya tetap nihil.
Untuk kesekian kalinya allah SWT.menunjukan kebesaran-nya, setelah berada selama tiga tahun di dalam batu tersebut,tiba-tiba saja tatkala bangun beliau telah mendapatkan dirinya berada di rumahnya di desa sakra.Keadaan ini bukan hanya mengejutkan dirinya namun juga bagi keluarga dan seluruh masyarakat desa saat itu yang secara spontan membunyikan kentongan tanda bahaya karena mendengar istri Muhammad Ali berteriak-teriak terkejut bahkan ketakutan tatkala tiba-tiba melihat seorang lelaki tidur di dalam rumahnya.Hal tersebut dapat di pahami, sebab sebelumnya beliau dianggap sudah meninggal ketika terdengar kabar perahu yang di tumpanginya pecah, dan terlebih lagi usaha pencarian yang dilakukan oleh Guru Adam tidak menghasilkan apa-apa.Keadaanpun kembali tenang setelah beliau menjelaskan kepada masyarakat semua peristiwa yang di alaminya hingga akhirnya kembali ke desa Sakra.
Selang beberapa waktu di Sakra,tiba-tiba beliau mendapatkan sepucuk surat dari Ba’idin memerihtahkannya agar kembali berlayar ke negeri Mekkah dengan pesan apabilah telah mendekati pelabuhan Jeddah nanti pada hari jum’at tengah hari(sekarang kira-kira pukul 12:00 siang) untuk segera masuk ke sebuah masjid masjid yang terletak di tengah lautan untuk melaksanakan sholat jum’at.
    Kemudian beliau berangkat dan sampai di tempat itu pada waktu yang sesuai dengan apa yang tertulis dalam surat.Ketika beliau memasuki masjid,nampak suasana sepi tanpa seorang pun berada didalam.Namun keadaan tiba-tiba berubah,dalam waktu sekejap entah darimana asalnya jama’ah yang terdiri dari para waliyullah telqah memenuhi ruang masjid.Kemudian setelah khutbah jum’at Syekh Ba’idin datang untuk mengimami sholat jum’at dam Muhammad Ali berdiri tepat di belakangnya.
    Usai sholat,para waliyullah secara perlahan kembali menghilang dan keadaan pun kembali menghilang dan keadaan pun kembali kecuali beliau dan Syekh Ba’idin.karena khawatir Syekh Ba’idin juga akan meninggalkan tempat itu,segera beliau ikatkan jarinya ke surban Syekh Ba’idin hinggaketika sang Syekhhendak meninggalkan tempat itubeliau merasa dad yang menarik surbannya.Syekh Ba’idin pun tau kalau Muhammad Ali ada berada di belakangnya dan dengan segera kemudian beliau memanggil kembalijama’ah sholat jum’at (para waliyullah) untuk berkumpul serta mengumumkan bahwa Muhammad Ali adalah tempat menutup segala pangajian.dan di masjid inilah Muhammad Ali untuk pertama kalinya menerima tawajjuh sekligus mandat dari Syekh Ba’idin sebagai Guru ilmu hakikat.
    Singkat cerita,setelah itu beliau berhaji dan kemudian beliau kembali ke Lombok,untuk memberi pengajian kepada masyarakatdi pulau Lombok,menegakkan kebenaran memimpin mereka untuk mencapai kemerdekaan dari tangan penjajahan Hindu-Bali sebagaimana telah dikisahkan.
    Dengan damikan,maka hubungan antara Muhammad Ali Batu dengan Baha’uddin Naqsyabandy bukanlah hubungana keguruan yang bersifat Barzakhi atau Uwaisy karena pertemuan tersebut bukan dalam wujud ruhani (dalam ruhani ataupun dalam mimipi),namun pertemuan langsung secara dhohir(nyata) walaupun sebagaimana telah dikisahkan bahwa jarak kehidupan di antara keduanya adalah sekitar 500 tahun (Baha’uddin wafat pada tahun 1389 M. Dan Muahammad Ali pada tahun 1892 M.) dan jalur keguruan seperti ini sangat terjadi dalam sejarah pada shufi.
Adapun jalur seperti di atas dalam sejarah keguruan para shufi pernah terjadi pada Syekh Abdul Karim al-Jilli dengan Nabi Muhammad SAW.sebagaimana beliau kisahkan dalam kisahnya al-Insan al-Kamil fii Ma’rifati Awaakhiri wal Awaalihi menjelaskan :
“ Suatu ketika saya pernah bertemu dengan dia dalam bentuk persis seperti Syekh saya Syarafuddin Isma’il al-Jabarty,tetapi saya tidak mengetahui bahwa dia (Syekh) itu sebenarnya adalah Nabi Muhammad, karena setehu saya bahwa dia (Nabi) itu adalah Syekh.Ini adalah suatu penglihatan yang saya dapati di Zabit Yaman pada tahun 796 H (1393 M.).Maka hakikatnya yang ada dalam peristiwa itu adalah bhwa Nabi Muhammad mempunyai kekuatan unmenampilkan diri dalam setiap bentuk.”
Haji Muhammad Ali Batu sang Guru suci,pemersatu umat danpahlawan pada perang Lombok itu wafat pada tanggal 15 Maulid 1310 H. Atau bertepatan tanggal 7 Oktober 1892 dalam suatu pertempuran yang menyebabkan beliau mendapatkan gelar Muhammad Ali Batu “ Ilang Sabil “yang artinya “ Mati syahid “dan dimakamkan di desa Sakra Lombok Timur.
Sumber : http://ismulhaq.com/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=51&Itemid=67

Rahasia Surat Al-Fatihah

Di dalam riwayat-riwayat dari Ahlul bait (sa) dinyatakan bahwa Al-Qur’an memiliki makna lahir dan makna batin. Surat Al-Fatihah adalah salah satu surat Al-Qur’an yang mengandung rahasia yang dalam dan dikenal sebagai Ummul Kitab,

induk Al-Qur’an, mencakup seluruh kandungan Al-Qur’an. Maknanya terbagi menjadi dua, separuh untuk Allah dan separuh lagi untuk hamba-Nya.

Dalam Tafsirnya Al-Mizan Allamah Thabathaba’i mengutip hadis Qudsi yang bersumber dari Imam Ali bin Abi Thalib (sa), dari Rasulullah saw. Hadis ini sangatlah penting kita simak dan kita renungkan. Berikut ini hadisnya:
Imam Ali (sa) berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Aku membagi surat Al-Fatihah antara Aku dan hamba-Ku, separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku.
Untuk hamba-Ku adalah sesuatu yang ia mohon. Ketika ia membaca: Bismillahir Rahmanir Rahim, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Hamba-Ku telah memulai dengan nama-Ku, maka berhaklah Aku untuk menyempurnakan semua urusannya dan memberikan keberkahan dari sisi-Ku untuk seluruh keadaannya.
Ketika hamba-Ku membaca: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, Allah Jalla jalaluh menyatakan: “Hamba-Ku telah memuji-Ku, mengakui bahwa semua nikmat yang dimilikinya berasal dari sisi-Ku, dan semua bala’ hanyalah Aku yang menyingkirkan sehingga ia merasakan itu sebagai karunia. Maka, hendaknya kalian saksikan, Aku akan menjamunya dengan kenikmatan akhirat lebih dari kenikmatan dunia yang telah Kuberikan, dan menyingkirkan bala’ akhirat sebagaimana Aku telah menyingkirkan bala’ dunia.
Ketika hamba-Ku membaca: Ar-Ramânir Rahîm, Allah Jalla jalaluh menyatakan: Hamba-Ku telah bersaksi bahwa Aku Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kalian saksikan, Aku akan melimpahkan rahmat-Ku kepadanya dan mencurahkan karunia-Ku kepadanya.
Ketika hamba-Ku membaca: Maliki yawmiddîn, Allah swt menyatakan: Kalian saksikan, karena ia telah mengakui Aku sebagai Raja pada hari kiamat, maka Aku akan memberikan kemudahan baginya yaitu amalnya tidak akan dihisab, dan Aku akan mengampuni semua kesalahannya.
Ketika hamba-Ku membaca: Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’in, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Dia hanya memohon pertolongan kepada-Ku dan hanya bersandar kepada-Ku. Kalian saksikan, Aku akan menolongnya dalam segala urusannya, Aku akan melindungi-Nya dalam segala deritanya, dan Aku akan memegang tangannya saat ia membutuhkan pertolongan.
Ketika hamba-Ku membaca: Ihdinash shirâthal mustaqîm ... (sampai akhir surat), Allah Jalla jalaluh menyatakan: Hamba-Ku telah memohon kepada-Ku, maka Aku pasti mengijabah permohonan hamba-Ku, memberikan apa yang diinginkan, dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkan.” (Tafsir Al-Mizan 1: 41-42)
Tentang Rahasia surat Al-Fatihah, Rasulullah saw juga bersabda:
“Ketika Allah Azza wa Jalla hendak menurunkan surat Al-Fatihah, ayat Kursi, surat Ali-Imran 18, 26-27, surat dan ayat itu bergelantung di Arasy dan tidak ada hijab dengan Allah. Surat dan ayat itu berkata kepada-Nya: Ya Rabbi, Engkau akan menurunkan kami ke alam dosa dan kepada orang yang bermaksiat kepada-Mu, sementara kami bergelantung dengan kesucian-Mu. Maka Allah swt berfirman: “Tidak ada seorang pun hamba yang membaca kalian setiap sesudah shalat kecuali Aku karuniakan padanya lingkaran kesucian di tempat ia berada, dan Aku memandangnya dengan mata-Ku yang tersembunyi dengan tujuh puluh kali pandangan setiap hari. Jika tidak, Aku tunaikan baginya setiap hari tujuh puluh hajat yang disertai pengampunan. Jika tidak, Aku melindungi dan menolongnya dari semua musuhnya….” (Tafsir Majmaul Bayan 1: 426)
Rahasia Shirâthal Mustaqîm
Shirathal mustaqîm adalah jalan yang lurus, jalan menuju Allah swt. Tidak jarang manusia tersesat dari jalan ini sehingga ia mendapat murka Allah swt. Tergelincir darinya sehingga ia jatuh ke kubangan api neraka.
Sharâthal Mustaqîm itu ada dua: Shirâthal mustaqîm di dunia dan Shirâthal mustaqîm di akhirat. Agar kita selamat dalam melintasi Shirâthal mustaqîm di akhirat, tidak tergelincir kemudian jatuh ke kubangan api neraka, maka kita harus berada di Shirâthal mustaqîm dunia, mengikuti tapak-tilas Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa), mematuhi bimbingan mereka.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Shirâthal mustaqîm adalah jalan menuju makrifatullah. Shirâthal mustaqîm ada dua macam: Jalan di dunia, dan jalan di akhirat. Shirâthal mustaqim di dunia adalah imam yang wajib ditaati. Barangsiapa yang mengenalnya di dunia, dan mengikuti bimbingannya, ia akan selamat dalam melintasi shirâthal mustaqîm di akhirat, jembatan di atas neraka Jahannam. Dan barangsiapa yang belum mengenalnya di dunia, ia akan tergelincir kakinya di akhirat sehingga jatuh ke dalam api neraka Jahannam.” (Tafsir Al-Mizan 1: 43)
sumber : http://www.almusthafa.org/index.php?option=com_content&view=article&id=145:rahasia-surat-al-fatihah-&catid=48:artikel&Itemid=98

Kisah Menyayat Hati .... (Pelajaran Berharga Bagi Para Orangtua..) ... oleh MAJELIS RATIB DAN MAULID HABIB ABU BAKAR BIN ALWI ALHABSY

Bismillahir-Rahmanir-Rahim...
  - Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ... kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.

Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...
http://id-id.facebook.com/pages/MAJELIS-RATIB-DAN-MAULID-HABIB-ABU-BAKAR-BIN-ALWI-ALHABSY/109415579086250?sk=notes&s=70